Memoar III: Maha Kisah Permulaan

Maha kisah tentang Aisyah sudah kumulai dalam banyak rangkaian kata yang tidak berhenti memberikan makna. Seperti sudah kutuliskan dalam ratusan kata sebelum kata ini, aku sudah jatuh cinta dengan gadis itu sejak di tatapan pertama. Kala itu, aku sedang bertindak sebagai wakil ketua panitia penerimaan para penggenggam pena yang baru, sekitaran tiga bulan silam.

Aku masih ingat benar bagaimana di hari pertama di tengah dinginnya pagi itu para anak-anak baru itu berlarian dengan seragam baru mereka untuk memasuki pelataran gedung utama perguruan tinggi. Mereka sengaja disuruh datang lebih pagi agar terbiasa dengan disiplin kampus yang akan membakar jiwa mereka dalam berapa ratus pekan kedepannya.

Di tengah fokus memerhatikan wajah-wajah cerah yang terpukau dengan dunia baru mereka lah aku melihat seorang bidadari yang juga tidak kalah paniknya dalam bergopoh-gopoh bersama teman-teman barunya. Wajah bidadari itu mengingatkanku dengan sesosok tokoh fiksi yang sudah membuatku jatuh hati setiap aku melihatnya. Tokoh fiksi ini adalah sosok yang dengan hanya jari telunjuknya mampu menginspirasi ribuan orang dan merupakan sesosok yang selalu diceritakan oleh kakekku padaku ketika aku kecil.

Entah mengapa bayangan sesosok itu benar-benar kembali mencuat saat aku harus bersua dengan sosok bidadari nyata yang mungkin akan menghiasi kehidupanku, kini, nanti, dan selamanya. Tetapi, pembiasan akan sosok yang amat kukagumi itu ternyata membuat aku semakin terpukau dengan bayang-bayang sang bidadari nyata yang wajahnya sedang pucat bercampur lelah akibat kombinasi rasa yang terlalu kompleks untuk dianalisis oleh seorang manusia yang dirundungi oleh asmara tak terjelaskan.

Langkah bidadari itu anggun bak sudah terlatih memukau pandangan lelaki. Tubuh rampingnya yang menagihkan pandangan dibalut dengan pakaian putih formal yang diwajibkan selama masa perkenalan. Tanda-tanda kejatuhan harkat para lelaki sudah terlihat di hadapan mataku. Tinggal menunggu waktu yang tepat, para mata-mata di sini akan bergeranyang agar tak memindahkan arahan mata kepada keindahan dunia yang terpampang di hadapan mereka.

Setelah pandangan yang melambatkan perputaran dunia itu pergi mengalihkan pandangnya kembali kepada kehijauan rimbunnya pepohonan, waktu pun kembali bergerak sesuai dengan kodratnya. Pandangan sudah teralih, tetapi dunia pun sudah teralih ke arah yang berlawanan. Putaran Bumi yang sudah diteliti oleh para ilmuwan terdahulu seakan-akan hanya khayal tak ilmiah yang mampu dibungkam oleh seribu alasan dangkal yang terasa terlalu subjektif. Dalam hati telah berbisik bahwa duniaku tak akan dapat berbuat sama seperti sebelum kejadian ini datang.

Masa perkenalan itu tidak menawarkan sesuatu yang berbeda dengan pengalaman para mahasiswa yang bergumul dengan masalah yang sama di kampus masing-masing. Keketatan regulasi pemerintah sudah membuat gerakan para pengecap kampus pendahulu karam karena tertekan oleh ancaman sang pengatur aturan. Meskipun terasa jengkel dan hambar karena kurangnya gairah, masa perkenalan ini terasa sangat indah bagiku. Terasa egoistik di tengah penderitaan rekan-rekanku, tapi itulah yang memang terasa di dalam hatiku.

Keindahan ini sudah pasti dapat diterka akibat muasalnya. Sebagai ketua organisasi, aku punya akses hampir tak terbatas untuk mengurusi urusan tiap-tiap kelompok yang sudah disusun oleh bawahanku di kepanitiaan. Akses istimewa kekuasaan itu lah yang aku gunakan untuk mengakses kelompok gadis pengalih dunia. Siapa pun yang berada di atas tanah ini boleh mengirimkan surat ketidak sukaannya padaku yang dirasa terlalu licik menggunakan kekuasaan padahal aku adalah seorang pemberontak penyalah gunaan kekuasaan. Satu jawabanku pada orang-orang seperti itu, "Otak kalian terlalu dangkal untuk dapat berargumen berbobot. Lebih baik diam!"

Aku tak banyak menebarkan benih-benih yang dapat mengurangi kewibawaanku di hadapan rekan-rekan sejawat. Alih-alih bertingkah kikuk dengan senyuman-senyuman penurun karisma aku memilih untuk menggembleng mereka agar tangguh dan siap dalam memutuskan dan diputuskan. Aku menekankan mereka agar mampu berpikir kritis dan logis serta matang sebelum melakukan tingkahan.

Dalam empat hari kebersamaan kami, aku mengubah perspektif mereka agar tidak melihat segala sesuatu dari satu sisi. Aku mengatakan pada mereka kalau kehidupan itu bukanlah sebuah lukisan dua dimensi yang hanya bisa dinikmati dari depannya. Kehidupan itu adalah dimensi tak hingga yang punya banyak cara untuk menikmatinya. Sekali perspektif berubah, maka cara menikmati dunia pun akan berubah.

Air muka yang kubaca dari gadis penenun hati itu tak dapat kubaca dalam empat hari aku menjadi komandan utama kelompok yang lumayan cemerlang ini. Kalau ia terkagum dengan kepemimpinanku aku tak pernah terbagi tahu akan hal itu. Kalaupun kejijikan yang ia kesankan padaku, aku pun tak pernah mendapatkan putusan mutlak darinya.

Di hari kelima dan terakhir dalam rangkaian acara yang sudah kami susun mekanismenya secara detail ini lah aku mendapatkan ungkapan yang membuat aku tercenung dengan keindahan rangkaian katanya yang memabukkan. Dalam sebuah sesi pemberian kesan dan pesan, aku menunjuk ia sebagai perwakilan dari kelompokku. Bukan karena aku buta karena terpukau dengan keindahan wajahnya. Ia memang sangat cemerlang. Kecemerlangannya bukan hanya berada di ukiran wajahnya yang indah, tetapi juga ukiran pemikiran yang melekat dan tajam memotong langkah-langkah mereka yang tak punya tuju. Ia tajam. Mematikan.

Dengan lantang di atas podium ia berkata, "Tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian serta hadirin dan rekan-rekan yang saya cintai dan banggakan, lima hari sudah usai di mana bimbingan kata dan tingkah telah kita terima dari segenap rekan-rekan pembimbing yang saya tidak tahu niatnya, tetapi mampu memberikan dedikasi nyata dalam memberikan kesan pertama yang baik kepada para kami penerus jalan mereka."

"Saya tidak tahu apakah rekan-rekan dan sahabat yang lain mendapatkan pembimbing yang layak dalam memberikan tauladan dan pandangan baru bari perspektif dangkal kita, tetapi saya beruntung mendapatkan itu dalam diri seorang lelaki tampan yang mempunyai karisma luar biasa dalam memberikan pengaruh kepada orang lain."

"Niat hati ingin sedikit memberi bantahan luntur seketika ketika melihat sorot matanya yang meneduhkan, atau mendengat suara nya yang menenangkan. Bantahan yang ingin saya lontarkan tidak jadi terucap karena kata-katanya selalu padat dan berisi. Dalam empat hari saya bersama dengannya, hati dan diri seolah ingin dekat selalu."

"Saya mungkin menginginkan sesuatu yang terbaik, tetapi saya tak berani berharap lebih usai bertemu dengan pembimbing luar biasa ini. Karena saya bukan orang yang hilang santunnya, maka saya akan mengucapkan ucapan yang sangat besar padanya. Kak Sulaiman, terima kasih. Semoga Kakak dapat menjadi bagian yang lebih besar di kehidupan kampus saya. Sekali lagi terima kasih!" Ia menutup pidatonya dengan senyuman. Senyuman terindah yang pernah kusaksikan seumur hidupku.

Pidato itu bersambut riuh tepuk tangan dan siul-siulan yang memekakkan telinga. Aku tak sempat mengecek wajahku, tetapi saat anak didikku yang lain melihat ke arahku, senyum-senyum mereka sudah cukup kuat untuk membuktikan kalau wajahku saat itu sangat memalukan. Terserah lah, aku pun sedang melayang, terbang, menuju ke awang-awang.


Komentar

Postingan Populer